Rabu, 10 Januari 2018

Seekor Harimau Sumatera di Bunuh Karena Meresahkan Warga

Seekor Harimau Sumatera di Bunuh Karena Meresahkan Warga

Seekor harimau yang diduga selama ini sering berkeliaran di Desa Hatupangan, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal, Sumatera Utara dikabarkan telah dibunuh oleh warga setempat, Minggu (4/3/2018) pagi.

Warga setempat menyebarluaskan foto-foto mayat harimau mati yang digantung dan jadi tontonan orang banyak.

Tampak di foto-foto itu, usus harimau telah terburai.

Belum diketahui bagaimana kronologi warga bisa menemukan harimau ini.

"Terimakasih BKSDA Madina, Dinas Kehutanan dan TNBG Madina atas kemampuan kalian Harimau Sumatera ini akhirnya terbunuh. Mudah2an tidak ada pihak manapun yang menuntut atas kejadian ini, terutama pihak yang menandatangani surat dibawah ini," tulis Magapress Madina II.

Selain foto harimau mati, beredar juga foto selembar surat bermaterai yang ditandatangani staf dan petinggi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara di Madina yang menyatakan bahwa mereka tidak akan mempermasalahkan jika warga membunuh harimau yang meresahkan mereka selama sebulan terakhir.

Kemunculan harimau di perkampungan Desa Hatupangan, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal, Sumatera Utara meresahkan warga. Apalagi, sempat ditemukan jejak harimau berjarak 300 meter dari sekolah di perkampungan.

"Anggota saya sudah seminggu belakangan ini berada di lokasi melakukan pemantauan. Jadi, anggota sudah berupaya menghalau harimau itu masuk ke perkampungan," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi, Jumat (2/3/2018) lalu.

Menurutnya, petugas di lapangan telah berusaha menghalau harimau dengan menimbulkan bunyi-bunyian keras agar harimau kembali ke dalam hutan. Mereka juga telah mengedukasi masyarakat untuk tidak menembak mati harimau itu.

"Kami imbau masyarakat tidak pergi ke dalam hutan sendirian. Kalau memang sudah masuk ke pemukiman, harus pasang kandang perangkap," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang BBKSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Gunawan Alza mengatakan memang pihaknya beberapa kali menemukan jejak harimau dekat perkampungan. Mereka pun sudah berupaya keras untuk menghalau hewan karnivora itu masuk ke pemukiman.

"Masyarakat maunya harimau itu ditembak mati. Namun kami sendiri berharap harimau itu bisa dievakuasi dengan cara dibius atau dipasang perangkap," katanya, Jumat lalu.

Gunawan menjelaskan, pihaknya bersama petugas Balai Konservasi Batang Gadis, Bobby sempat memasang tujuh kamera trap untuk merekam kondisi harimau. Namun, kata dia, sejauh ini harimau itu belum terekam.

"Dari jejak yang kami lihat, sepertinya harimau ini sakit. Karena ada jejak seperti terseret-seret. Namun, untuk memastikan itu kita kan harus lihat langsung," katanya.

Senin, 08 Januari 2018

Ini yang Terjadi Jika Tidak Buang Air Besar Selama 40 Hari

Ini yang Terjadi Jika Tidak Buang Air Besar Selama 40 Hari

Salah satu cerita teraneh di media internasional belakangan ini adalah tentang seorang pria di Inggris yang kukuh tidak buang air besar selama lebih 40 hari. Dia diduga menyelundupkan narkoba di dalam saluran pencernaannya.

Walaupun terdengar lucu, sebetulnya perilaku ini sangat berbahaya dan bisa berdampak serius bagi kesehatan.

Ian Lustbander, ahli gastroenterologi dari Universitas New York menekankan bahwa kerja usus besar memang mengeluarkan feses dari dalam tubuh.

Jika kotoran tidak dikeluarkan melalui anus, kotoran justru akan tertahan di usus besar dan kian hari, kian mengeras dan menumpuk. Usus besar kemudian akan mengalami pembengkakan tidak normal yang dinamakan megakolon.

“Langka sekali orang menahan berak terlalu lama. Orang yang konstipasi justru ingin buang air besar tapi tidak bisa. Kalau orang makan terus tapi tidak berhasil mengeluarkan feses, usus besar akan jadi buntu. Ini bahaya,” ujar Lustbader seperti yang dilansir dari Live Science pada Sabtu (3/3/2018).

Lustbader menyebutkan bahwa usus besar yang semakin membengkak bisa pecah. Selain pecah, dampaknya adalah usus membesar hingga ke tulang rusuk.

Dalam buku Management of Functional Gastrointestinal Disorders in Children: Biopsychosocial Concepts for Clinical Practice, terungkap adanya kasus seorang bocah yang tidak buang air besar selama satu tahun. Ia rupanya mengidap sindrom retensi feses yang kerap terjadi pada anak-anak dengan pengalaman buruk saat buang air besar.

Dikatakan Lustbader, pasien sindrom retensi feses selalu bereaksi keras ketika tubuh memberikan sinyal untuk buang air besar. Dia akan mengencangkan otot panggul dan bokong sehingga tinja tidak keluar menyeluruh dari ususnya, yang terdorong keluar hanyalah feses cair dengan jumlah yang sedikit.

Gejala umum pada anak-anak dengan sindrom ini adalah sakit perut, menjadi lebih rentan tersinggung, dan nafsu makan yang berkurang.

Dalam kasus yang kini terjadi di Inggris, pria tersebut ogah memakan apapun agar tidak buang air besar. Namun, Lustbader berkata bahwa ini hanya solusi sementara yang bisa menyebabkan malnutrisi.

Lalu jika dia benar menelan narkoba, pembungkusnya bisa pecah di dalam usus dan menyebabkan overdosis. Kalaupun jumlahnya kecil dan bisa diserap tubuh, polisi akan bisa mendeteksi keberadaan narkoba melalui urin.

Selain itu, menahan buang air besar begitu lama juga bisa menganggu mekanisme respons usus. “Jika pria tersebut terus-terusan menolak buang air besar, kelak motilitas ususnya akan bermasalah. Ia akan butuh obat pencahar untuk mengaktifkan kembali kerja usus besar,” kata Lustbader.