Kamis, 22 Februari 2018

Bukan Hanya di Bumi Ternyata di Bulan Juga Banyak Sampah

Bukan Hanya di Bumi Ternyata di Bulan Juga Banyak Sampah

Ternyata, tidak hanya Bumi saja yang memiliki sampah. Di Bulan juga ditemukan tumpukan sampah. 

Konon, berdasarkan data Wikipedia, sampah di Bulan jika ditotal keseluruhan bisa mencapai 400.000 pon atau setara dengan 181.000 kilogram perhitungan di Bumi.

Jumlah ini memang masih menjadi polemik di kalangan ilmuwan, tetapi William Barry, Kepala Sejarawan Badan Antariksa AS ( NASA), menilainya cukup masuk akal bila melihat sampah-sampah yang ditinggalkan NASA.

Barry berkata bahwa misi luar angkasa baik yang berawak, seperti program Apollo maupun yang tidak berawak seperti yang dilakukan AS, Rusia, Jepang, India, dan Eropa, menyisakan sampah di Bulan.

Hal itu diketahui dari temuan sampah bulan seperti bendera, palu, bulu Falcon, potongan emas zaitun, dan kepingan bagian dari kendaraan penjelajah bulan. Ini merupakan peninggalan uji coba peluncuran pesawat angkasa pada tahun 1971.

Selain itu, ada juga satelit  Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) yang masih tertinggal di bulan.

Benda-benda ini memang sengaja ditinggalkan di Bulan. Sebab, untuk membawanya kembali ke bumi membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak. Selain itu, benda-benda tersebut sudah tidak terpakai lagi setelah misi berhasil.

Namun, rupanya sampah yang ada di Bulan menjadi penting. Sampah-sampah tersebut membuktikan bahwa permukaan Bulan bisa disinggahi, tidak seperti anggapan para ilmuwan sebelumnya yang mengira bahwa permukaan bulan berupa pasir  isap karena terlalu sering diratakan oleh batuan antariksa.

Barry juga meminta agar sampah di Bulan tidak hanya dianggap sebagai benda terbuang dan tak terpakai. Sampah itu kelak akan menjadi jejak arkeologi yang penting. Harapannya, para ilmuwan di masa mendatang berkesempatan melongok bukti keberadaan misi antariksa di Bulan.

Jejak misi antariksa yang masih teronggok di bulan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penelitian selanjutnya.

Reflektor laser kepunyaan kru Apollo 11, misalnya. Benda yang masih bersandar di bulan ini masih bisa dipakai untuk mengukur jarak Bumi dan Bulan. Caranya dengan menyorotkan laser ke reflektor. Dari situ, diketahui bahwa setiap tahunnya, jarak Bumi dan Bulan bertambah 3,8 sentimeter atau bulan bergerak menjauhi Bumi.

Senin, 12 Februari 2018

Kekuatan Genggaman Tangan yang Bisa Redakan Rasa Sakit

Kekuatan Genggaman Tangan yang Bisa Redakan Rasa Sakit

Saat Anda merasa sakit atau nyeri, pernahkah Anda memegang tangan kekasih atau orang yang Anda sayangi kemudian secara perlahan rasa sakit itu hilang?

Jika Anda pernah mengalami hal seperti itu, sebuah penelitian yang dilakukan peneliti asal Universitas Colorado Boulder dan Universitas Haifa berhasil membuktikan bahwa ini bukanlah sekadar sugesti.

Dalam penelitian yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), Senin (26/2/2018), mereka melaporkan bahwa sentuhan seperti berpegangan tangan memang dapat menjadi penyembuh rasa sakit.

Hal ini karena saat kita menggenggam tangan orang yang kita sayangi, gelombang otak kita dan pasangan akan menjadi sinkron. Hal inilah yang membuat secara berangsur rasa sakit yang dirasakan pasangan hilang.

Mereka mengatakan, semakin kita nyaman atau sayang pada pasangan, semakin banyak pula gelombang otak yang disinkronkan. Saat gelombang otak semakin banyak yang disinkronkan maka semakin banyak rasa sakit yang hilang.

"Dunia modern saat ini memiliki lebih sedikit interaksi fisik dengan sesama dari pada sebelumnya. Penelitian kami ingin menunjukkan bahwa sentuhan sebenarnya memiliki kekuatan dan sangat penting untuk sesama manusia," kata peneliti rasa sakit Pavel Goldstein, dari Cognitive and Affective Neuroscience Lab milik Universitas Colorado Boulder, dilansir Science Daily, Kamis (1/3/2018).

Para peneliti mengklaim bahwa ini adalah penelitian pertama yang mengamati sinkronisasi gelombang otak dalam konteks rasa sakit, di mana otak berperan dalam analgesia atau hilangnya rasa sakit lewat sentuhan.

Goldstein sendiri tertarik akan fenomena ini setelah ia memegang tangan istrinya usai melahirkan putrinya. Tak disangka, sentuhan yang diberikannya ternyata dapat mengurangi rasa sakit sang istri.

"Setelah itu saya ingin mengujinya di laboratorium, apakah seseorang benar-benar dapat mengurangi rasa sakit dengan sentuhan, dan jika ya, bagaimana itu terjadi," sambungnya.

Dia dan rekan-rekannya dari University of Haifa kemudian merekrut 22 pasangan heteroseksual yang berusia 23 sampai 32 yang telah menjalin hubungan selama satu tahun.

Peneliti kemudian memasangkan topi electroencephalography untuk mengukur aktivitas gelombang otak selama dua menit pada semua responden.

Peneliti meminta pasangan melakukan tiga kegiatan, yakni duduk berdampingan tanpa sentuhan, duduk bersama sambil berpegangan tangan, dan duduk di ruangan terpisah.

Kemudian mereka mengulangi hal tersebut saat perempuan dibuat mengalami nyeri ringan pada lengannya.

Peneliti menemukan, terjadi sinkronitas gelombang otak pada pita alfa, panjang gelombang yang terkait dengan perhatian, saat pasangan duduk berdampingan baik bersentuhan atau tidak.

Sinkronitas gelombang otak akan meningkat tajam saat perempuan merasakan rasa sakit dan kekasih memegang tangannya.

Sementara saat perempuan sakit dan pria tidak memegangnya, maka sinkronitas gelombang otak akan berkurang.

Hal ini sesuai dengan temuan sebelumnya dari eksperimen yang sama yang menemukan bahwa detak jantung dan sinkronisasi pernapasan hilang saat peserta pria tidak menggenggam tangan pasangannya untuk meredakan rasa sakit.

"Tampaknya rasa sakit ini benar-benar mengganggu sinkronisasi interpersonal antara pasangan dan sentuhan yang membawanya kembali," kata Goldstein.

Tes selanjutnya tentang tingkat empati pasangan pria mengungkapkan bahwa semakin pria berempati terhadap rasa sakit pasangannya, maka semakin banyak aktivitas otak yang sinkron. Semakin sinkron otak mereka, semakin rasa sakitnya mereda.

Goldstein mengatakan masih perlu dialakukan banyak penelitian untuk mencari tahu bagaimana aktivitas otak tersambung dengan pasangan sehingga bisa membunuh rasa sakit.

Ia dan timnya hanya dapat menduga bahwa sentuhan dapat membuat seseorang merasa dimengerti, yang pada gilirannya dapat mengaktifkan mekanisme penghilang rasa sakit di otak.

"Sentuhan interpersonal mungkin mengaburkan batas antara diri dan orang lain," tulis para peneliti dalam laporannya.

Perlu diketahui, studi ini tidak mengeksplorasi apakah efek yang sama akan terjadi pada pasangan sesama jenis, atau apa yang terjadi pada jenis hubungan lainnya. Untuk saat ini mereka hanya berkata, jangan remehkan kekuatan berpegangan tangan.

"Anda mungkin berkata peduli pada rasa sakit pasangan. Tapi kalau itu tidak dibuktikan dengan sentuhan, hal itu tidak akan tersampaikan," ujarnya.