Senin, 05 Maret 2018

Otak Manusia Bekerja dengan Gampang Lupa Detail

Otak Manusia Bekerja dengan Gampang Lupa Detail

Pernah kecewa terhadap diri sendiri karena tidak mampu mengingat secara detail? Jika ya, itu bukanlah hal buruk. Anda tidak memilik penyakit.

Otak bekerja dengan mengabaikan detail kecil dan mengingat gambaran besarnya. Anda mungkin tidak ingat berapa harga pop corn di dalam bioskop saat kencan pertama. Itu wajar.

Dalam sebuah publikasi di jurnal Neuron pada Rabu (27/9/2017), Lila Davachi, ahli neurologi dan profesor psikologi di New York University menunjukkan adanya keseimbangan kerja otak. Otak secara otomatis memutus dan membuang informasi yang tak penting.

Bersama koleganya, Davachi menampilkan objek tertentu pada salah satu dari empat tempat; pantai, hutan, kota, kamar tidur.

Pemindaian otak para peserta menunjukkan setiap objek dan tempat dibuat menjadi ingatan tersendiri. Satu pekan kemudian, daerah otak yang aktif, waktu, dan polanya menjadi berbeda.

"Setelah satu minggu, kami mulai melihat struktur yang sama," kata Davachi dikutip dari Live Science pada Jumat (29/9/2017). "Semua pemandangan pantai menyatu ke dalam satu pola."

Davachi mendapati dua bagian otak yang bertanggung jawab terhadap penghilangan detail peristiwa.

Pertama adalah korteks prefrontal media, bagian otak terlibat dalam kognisi dan mengingat kenangan lama, aktif saat peserta dipindai kembali sepekan kemudian.

Kedua, hippocampus yang berperan aktif mengkodekan ulang kenangan dan meleburnya menjadi gambaran yang lebih besar. Biasanya, hippocampus berperan menyimpan kenangan detail yang terpisah.

"Anda bahkan bisa menafsirkan data ini dengan cara yang berlawanan dan berkata, 'Lihat, otak menyimpan informasi ini secara terpisah,' tapi yang penting, otak melakukan keduanya. Otak mengelompokkan informasinya," kata Davachi.

Sayangnya, penelitian Davachi belum menggali lebih jauh bagaimana ingatan membentuk pengetahuan dan pengalaman berada di pantai.

Laba-laba Raksasa yang Bisa Bunuh Manusia Hanya 15 Menit

Laba-laba Raksasa yang Bisa Bunuh Manusia Hanya 15 Menit

Seperti kita ketahui, beberapa jenis hewan memiliki racun yang mematikan. Salah satunya adalah laba-laba.

Di antara semua laba-laba beracun, baru-baru ini para peneliti menemukan yang paling mematikan di Australia. Tak hanya mematikan, laba-laba ini juga berukuran sangat besar.

Ukurannya mencapai 7,8 sentimeter. Padahal laba-laba jaring biasanya hanya berukuran antara 1 hingga 5 sentimeter saja.

Bahkan, jangkauan kaki laba-laba ini mencapai 10 sentimeter. Dari ukurannya tersebut, para peneliti menamainya Colossus yang berarti raksasa.

Laba-laba ini tidak saja paling beracun di Australia, tapi di dunia. Bahkan racunnya dapat dengan mudah membunuh manusia dewasa.

Bahayanya lagi, pejantan dari spesies ini cukup agresif dan suka bersembunyi di tempat tinggal manusia untuk mencari pasangan.

Menurut laporan Mirror, Desember 2017 lalu, hewan yang bisa membunuh dalam waktu kurang dari 15 menit ini ditemukan di kamar tidur seorang anak perempuan di Australia bernama Nicole Wedlock. Selain itu, laporan mengenai serangan laba-laba ini juga terjadi di Australia.

Sebenarnya, penawar dari racun laba-laba jenis ini telah ditemukan sejak 1981. Meski begitu, 30-40 orang digigit setiap tahunnya oleh jenis yang sama.

Sayangnya, racun Colossus sendiri diketahui lebih kuat daripada laba-laba corong jaring Australia lainnya. Inilah yang membuat racunnya menjadi sangat berharga karena diharapkan bisa digunakan untuk membuat penawar baru yang lebih kuat.

Saking berharganya penawar tersebut, alih-alih memusnahkan laba-laba ini, para ahli membawanya ke Australian Reptile Park. Taman tersebut diketahui merupakan rumah program "pemerahan" racun di Australia.

Dilansir dari Science Alert, Kamis (01/03/2018), laba-laba ini merupakan yang terbesar dari jenisnya yang diserahkan ke teman reptil tersebut. Saat diserahkan pada Januari 2016 silam, ia mendapat julukan Big Boy.

Laba-laba jenis ini biasanya perlu diperah hingga 70 kali untuk mendapatkan dosis tunggal.

Sementara pihak taman reptil sedang membuat penawarnya, Liz Gabriel yang menjadi kurator di taman tersebut memperingatkan bahwa waktu-waktu seperti sekarang merupakan puncak dari perkembangbiakan laba-laba corong jaring. Mereka akan mudah ditemukan di area seperti binatu, atau tempat lembap lainnya.

"Cuaca yang telah kita lihat selama minggu lalu sangat menarik bagi laba-laba corong jaring," ungkap Gabriel dikutip dari The Sun, Rabu (28/02/2018).

Kisah Ular Piton yang Memangsa Rusa Ukuran Jumbo

Kisah Ular Piton yang Memangsa Rusa Ukuran Jumbo

Kasus ular piton yang memangsa hewan lain memang bukanlah yang pertama. Bahkan tak jarang mangsa dari ular tersebut lebih berat dan besar.

Namun nyatanya, perbedaan ukuran tersebut tak menghentikannya untuk memangsa hewan yang lebih besar.

Kali ini yang dimangsa adalah seekor rusa yang memiliki berat 35 kilogram. Padahal Ular piton pemangsanya hanya seberat 31,5 kilogram.

Ulah piton yang memangsa rusa ini diabadikan oleh The Conservancy of Southwest Florida, sebuah organisasi penelitian alam liar.

Ular piton Burma dalam foto yang diabadikan tersebut merupakan ular betina sepanjang 3 meter yang ditemukan di Collier Seminole State Park, Florida pada 7 April 2015. Sedangkan mangsanya adalah rusa ekor putih betina.

Sebenarnya, hal ini merupakan bagian dari observasi yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Observasi tersebut bertujuan untuk melihat perilaku dan habitat piton agar bisa mengendalikan spesies invasif ini.

"Observasi ini merupakan bukti penting lain untuk dampak negatif dari ular piton Burma yang invasif yang menyerang hewan asli di Greater Everglades Ecosystem," ungkap Ian Bartozek, ahli biologi organisasi tersebut dikutip
dari Newsweek, Sabtu (03/03/2018).

"Bayangkan konsekuensi potensial untuk harimau kumbang asli di Florida jika ular piton Burma mempengaruhi jumlah rusa ekor putih yang merupakan mangsa utama dari harimau kumbang tersebut," imbuhnya.

Setelah melihat perburuan ular tersebut, para peneliti mengikuti dan memotretnya. Dalam potret kedua ini, ular tersebut memuntahkan mangsanya.

Sudah rahasia umum bahwa ketika ular piton yang baru saja "makan" diganggu maka ia akan memuntahkannya kembali. Ini merupakan mekanisme pertahanan diri dari ular tersebut.

Namun saat detik-detik ular tersebut memuntahkan buruannya, ternyata kepala rusa itu sudah dicerna. Sedangkan tubuh rusa masih belum dicerna.

Bukti yang didapatkan ini menegaskan bahwa ular piton Burma menjadi "predator puncak baru".

Menurut laporan CBS, Kamis (01/03/2018), jenis ular ini bertanggung jawab atas penurunan 90 persen populasi mamalia kecil di daerah tersebut.

Bartozek menjelaskan, ular piton itu adalah produk dari perdagangan hewan peliharaan. Tapi kini, hewan melata itu menimbulkan malapetaka pada populasi satwa liar setempat.