Senin, 10 September 2018

Hal Buruk yang Terjadi Jika Malas Menghapus Riasan Wajah

Hal Buruk yang Terjadi Jika Malas Menghapus Riasan Wajah

Kebanyakan wanita merasa perlu memakai make up saat beraktivitas di luar rumah. Namun, saat tubuh sudah lelah di malam hari terkadang godaan untuk langsung tidur tanpa menghapus make up sering sulit dilawan.

Kebiasaan malas membersihkan muka merupakan "dosa kecantikan" yang bisa memicu berbagai masalah kulit. Jadi, mulai saat ini jangan malas membersihkan muka jika ingin terhindar dari gangguan kulit ini:

1. Infeksi mata

Berhasil menggunakan riasan mata yang indah adalah prestasi tersendiri bagi para wanita. Namun, tahukah kamu bahwa riasan gaya riasan mata smokey eyes atau pemakaian perona mata berwarna-warni bisa menyebabkan infeksi pada mata? Partikel kecil dari make up, mulai dari maskara sampai eye shadow dapat masuk ke dalam mata dan menyebabkan iritasi. Akibatnya, mata akan memerah bahkan infeksi parah jika kita malas menghapusnya sebelum tidur.

2. Komedo

Membiarkan kosmetik tetap menempel di wajah ketika tidur bisa menyumbat pori-pori wajah dan akhirnya memicu munculnya komedo.

3. Jerawat

Salah satu hal yang paling jelas terjadi saat malas membersihkan riasan wajah adalah munculnya jerawat. Pori-pori yang tersumbat karena malas membersihkan riasan tidak hanya menjadi penyebab infeksi, jerawat juga bisa muncul karena Kamu malas membersihkannya.

4. Bibir Kering

Wanita dan lipstick seakan-akan tak pernah terpisahkan. Namun, terlalu lama menggunakan warna pada bibir dapat membuat bibir menjadi kering karena hilangnya kelembaban alami kulit bibir.

5. Penuaan kulit

Kamu pasti pernah mendengar bahwa 'mencegah lebih baik daripada mengobati'. Yah, ini juga berlaku pada kulitmu.

Tidak menghapus riasan di wajah akan menciptakan semacam 'penghalang' yang menyebabkan kulit kering. Selain itu, riasan akan menarik zat radikal bebas yang bisa menyebabkan penuaan dini.

Sabtu, 08 September 2018

Daftar Daerah Indonesia yang Paling Sering Internetan

Daftar Daerah di Indonesia yang Paling Sering Internetan

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII) merilis laporan mengenai perilaku penggunaan Internet Indonesia tahun 2017. Berdasarkan hasil survei, pengguna internet di Indonesia menembus angka 143,27 juta dari total populasi penduduk.

Berdasarkan laporan tersebut, APJII merangkum wilayah dengan tingkat penggunaan internet tertinggi. Penggunaan internet terbanyak masih didominasi oleh wilayah Jawa.

Jumlah pengguna internet di Jawa mencapai 58,08 persen dari total pengguna di Indonesia. Meski begitu, penetrasi penyebaran internet masih setengahnya, yakni 57,7 persen dari total penduduk di Jawa.

Posisi kedua ditempati oleh wilayah Sumatra dengan jumlah pemakai internet mencapai 19,05 persen. Penetrasi internetnya juga tercatat lebih rendah dibanding Jawa, yakni sekitar 47,2 persen.

Posisi ke-tiga ditempati oleh Kalimantan dengan jumlah pengguna 7,97 persen. Namun penetrasi penyebaran internetnya cukup tinggi dibandingkan Jawa. Kalimantan mencatat penetrasi sebaran penggunaan internet terbesar dengan angka 72,19 persen.

Posisi ke-empat disusul Sulawesi dengan jumlah pengguna 6,73 persen. Penetrasinya penyebaran internetnya juga lebih rendah dibanding wilayah Sumatera. Di Sulawesi, penetrasi hanya tercatat sekitar 46,7 persen.

Posisi ke-lima bertengger wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Persentase penggunaan internetnya baru 5,63 persen dari jumlah total populasi. Namun penetrasinya mencatatkan angka yang lebih tinggi dibanding Jawa dan Sumatera. Penetrasi penggunaan internet Bali mencapai 54,23 persen.

Posisi terakhir adalah wilayah Maluku dan Papua. penggunaan internet di wilayah ini hanya 2,49 persen. Penetrasinya juga masih rendah yakni 41,98 persen.

Jadi jika disimpulkan, jumlah pengguna internet terbesar tetap dipegang Jawa tetapi untuk persentase jumlah penduduk yang sudah berinternet dipegang Kalimantan dengan capaian 72,19 persen.

Berdasarkan laporan APJII, Kamis (22/2/2018), penggunaan layanan internet juga masih didominasi oleh laki-laki.

Dari 143,26 juta pengguna, sebanyak 51,43 persen berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan pengguna perempuan terpaut sedikit dengan angka 48,47 persen.

Dalam survei ini, APJII menggunakan 2.500 responden dengan margin of error +- 1,96 persen dan level of confidence 95 persen. Pengumpulan data ini melalui wawancara dengan bantuan kuisioner. Responden berasal dari enam wilayah Indonesia, yakni Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa, dan Maluku-Papua.

APJII menggunakan metodologi multi stage cluster sampling, yakni urban, rural-urban, dan rural. Survei dengan metodologi ini diklaim bisa mengetahui persoalan yang dihadapi terkait penetrasi internet di Indonesia.